lakshinta rizky |
What if all the words I've written turned into insects, walked off the pages, and took over my house? |
How many times do you need to get hurt before you know it’s time to let go?
A million words would not bring you back, I know because I tried. Neither would a million tears, I know because I cried.
My January Playlist
Mengapa ada waktu yang tersedia untuk mereka saling mencintai, jika karena perbedaan di kemudian hari Tuhan hendak memisahkannya?
ada yang ingin menjaring hujan
dengan pepatah-petitih tua
yang tak lekang meski basah-
hujan buru-buru menghapusnya
ada yang ingin mengurung hujan
dalam sebuah alinea panjang
yang tak kacau meski kuyup
hujan malah sibuk menyuntingnya
ada yang ingin membebaskan hujan
dengan telapak tangan
yang jari-jarinya bergerak gemas-
hujan pun tersirap: air mata
~*Sapardi Djoko Damono*~
If I knew it would be the last time that I’d see you fall asleep, I would tuck you in more tightly and pray the Lord, your soul to keep.
If I knew it would be the last time that I see you walk out the door, I would give you a hug and kiss and call you back for one more.
If I knew it would be the last time I’d hear your voice lifted up in praise, I would video tape each action and word, so I could play them back day after day.
If I knew it would be the last time, I could spare an extra minute or two to stop and say “I love you,” instead of assuming, you would know I do.
If I knew it would be the last time I would be there to share your day, well I’m sure you’ll have so many more, so I can let just this one slip away.
For surely there’s always tomorrow to make up for an oversight, and we always get a second chance to make everything right.
(via karizunique)
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Seperti sebuah kecup perlahan di bangun pagi dan satu peluk yang sebentar saja.
Hari ini aku masih akan menanti disini. Tak akan kemana-mana. Tak akan bersentuhan dengan dunia luar yang tak ramah, yang tidak mengerti cinta kasih. Aku akan terus disini. Menunggu Harel. Seperti hari-hari yang lalu aku akan duduk di tepi jendela sampai di suatu hari tepatnya di sebuah purnama dimana Harel akan dating untuk membawaku pergi.
Memori itu kembali berputar di pikiranku. Perih itu terkuak kembali dalam hatiku, saat-saat dimana aku masih bersama Harel. Seseorang yang pernah menyejukkan panasnya gurun hatiku. Dia yang pernah menjadi inspirasiku. Dia yang pernah menjadi titik hujan di tengah kemarau panjang. Dialah yang menjadi bintang di tiap gelap malamku. Sanjungannya yang pernah membuatku serasa berada di alam para dewa-dewi. Tapi semua itu takkan berlangsung lama.
Di suatu pagi, setaun yang lalu. Pikiranku mulai berkecamuk saat Harel tak kunjung muncul pada suatu janjinya. Aku berkesimpulan pasti ada sedikit perubahan pada janjinya karena Harel tak kunjung tiba. Entah apa yang menghalanginya, karena selama ini Harel tak pernah ingkar janji. Ketika itu aku sudah diambang pintu. Aku tak tahan menunggu lagi. Janji itu harus segera terlaksana. Apa yang terjadi pada Harel? Aku tidak bias menghubunginya. Ia belum memberikan kabar sedang ada dimana. Adakah yang menjadi penghalang?
Tiba-tiba jantungku berdegup begitu kencang ketika mendapati seorang pembawa berita mengabarkan kalau Harel ikut menjadi korban dalam kecelakaan naas itu. Aku sungguh terpukul dengan kejadian ini. Rasa kehilangan ini tidak mungkin hilang begitu saja. Ia akan selalu hidup selamanya di alam batinku. Bagaimanapun aku selalu ingat Harel pernah bilang “Tak aka nada yang menghalangi kita, Ellena. Tunggu aku di jendela kamarmu. Di sebuah purnama nanti, aku akan tiba menjemput kamu disana. Dan kita akan pergi, meninggalakan semua kebencian di dunia…. “ Aku hanya akan menatapnya tanpa berkata. Alunan music bernada sendu membuatnya terdiam setelah menyelasaikan kalimatnya. Aku lalu mengikuti permintaannya menanti di tepi jendela. Walaupun mimpi buruk itu membuyarkan semuanya.
Tapi aku akan selalu percaya. Harel akan dating, berdiri di depan pintu gerbang yang menghadap ke jendela kamarku. Kemudian ia akan berkata, “Cinta kita akan mengantar aku dan kamu menuju jalan kebahagiaan. Lalu aku akan bertanya, “Harel, kita tidak punya apa-apa?” Harel pasti meyakinkanku, “Tapi kita punya cinta, Ellena! Itulah yang akan mengantarkan kita sepanjang perjalanan nanti.” “Tapi aku masih ragu, kemana kita akan pergi?” Harel akan memandangku dan berkata. “Ellena, cinta itu adalah sebuah perjalanan untuk menemukan cinta itu sendiri. Kamu dan aku sudah saling mencintai. Sekarang kita harus mencari cara untuk membuatnya kekal abadi. Harel tak perlu lama menanti karena sebelum ia menyelasaikan kalimatnya, aku sudah di luar pintu gerbang. Siap untuk pergi bersamanya, meninggalkan segalanya. Apapun resikonya.
PS: sehabis bongkar2 kamar nemu cerpen karya saya waktu sekolah menengah dulu. repost lagi disini ya :p
We cannot start over, but we can begin now,
and make a new ending.
So, I’m giving it all up.
I’m calling it quits.
Some things are just not meant to be.
Some things just can’t be forced.
And it’s okay. I will be fine, eventually.
Apakah yang mungkin sanggup membawa pelukmu kembali sementara aku terlalu ragu bahkan hanya untuk sebuah mungkin.
Padahal rindu telah mengendap begitu lama dan luka telah fasih mengeja nama kita.
Bukankah perpisahan judul yang paling indah untuk menandai paragraf baru dari sebuah akhir yang begitu lekas?
Ku kira kau belum pergi terlalu jauh, sebab masih tertinggal samar wangi tubuhmu merayap perlahan di seluas dadaku.
Bukankah kenangan teman terbaik untuk membaca lagi halaman demi halaman yang sering kita lupakan?
Apakah yang munngkin membawa langkahmu kembali sementara kita terlalu angkuh untuk memungut lagi keping demi keping yang aku lemparkan, yang kau biarkan.
Disadur dari Antologi Puisi: “Empat Cangkir Kenangan”
oleh Bernard Batubara.
Aku berjanji akan membuatkan rumah yang hangat dan nyaman untukmu. Pulanglah….